Kesenian daerah merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya
yang mencerminkan identitas, nilai-nilai, dan pandangan hidup suatu masyarakat.
Dari sekian banyak warisan budaya Nusantara, musik degung Sunda menjadi salah
satu contoh harmonisasi antara tradisi dan modernitas yang masih lestari hingga
kini. Degung merupakan ensambel gamelan khas Sunda yang dikenal dengan alunan
musiknya yang lembut, menenangkan, dan sarat makna. Tidak hanya di tanah Sunda,
instrumen gamelan juga ditemukan di berbagai daerah Indonesia seperti Bali,
Banten, dan Jawa Tengah. Meskipun degung Sunda belum diakui secara khusus oleh
UNESCO, namun gamelan, yang menjadi bagian penting dalam degung, telah diakui
sebagai warisan budaya tak benda dunia pada tahun 2021.
Sejarah pembuatan degung telah mengalami perjalanan panjang
dari masa ke masa. Pada masa kolonial, ketika logam masih banyak tersedia,
degung dibuat dari bahan logam bekas seperti senjata api atau peralatan militer
Belanda abad ke-19. Penggunaan logam sebagai bahan utama menciptakan bunyi khas
sekaligus menjadi simbol transformasi dari alat perang menjadi alat harmoni.
Proses pembuatannya dilakukan secara manual, mulai dari melebur logam di tungku
kayu, mencetaknya dengan palu dan cetakan kayu, hingga membentuk nada melalui
pukulan tangan. Etnomusikolog Belanda, Jaap Kunst (1934), mendokumentasikan
proses ini dan mencatat bahwa degung sering kali dibuat dalam skala kecil untuk
kebutuhan desa. Inovasi estetika pun mulai muncul dengan ditambahkannya ukiran
bermotif Sunda pada badan instrumen. Memasuki era kemerdekaan (1945–1970-an),
degung mulai diproduksi secara massal untuk keperluan pendidikan dan
pertunjukan. Sanggar seni seperti Sanggar Degung Udjo (didirikan pada 1960-an)
turut memperkenalkan standarisasi nada dengan menggunakan bahan kuningan murni.
Pada dekade 1980-an, teknologi modern mulai diterapkan. Pengrajin degung
memanfaatkan mesin CNC (Computer Numerical Control) untuk menghasilkan presisi
nada yang lebih baik. Kolaborasi antara seniman dan akademisi, seperti yang
dilakukan oleh ISBI Bandung, juga memperkenalkan inovasi seperti penggunaan
logam daur ulang (degung hijau) dan eksperimen degung elektronik yang
terintegrasi dengan aplikasi musik digital.
Menurut Kari Mulyana, kata degung berasal dari gabungan dua
kata, “ngadek” (berdiri) dan “agung” (megah), yang mencerminkan kemegahan para
bangsawan Sunda. Degung mulai populer pada abad ke-18 dan pada awalnya hanya
dimainkan oleh kalangan menak (bangsawan atau bupati) sebagai hiburan di
keraton dan pendopo. Seiring waktu, seni degung menyebar ke masyarakat umum dan
kini dapat dinikmati oleh semua kalangan, baik dalam bentuk instrumental maupun
vokal. Namun demikian, seniman Mamat Rachmat mencatat bahwa popularitas degung
menurun dibandingkan masa keemasan pada tahun 1980–1986, ketika musik ini masih
sering dipentaskan dan direkam secara luas.
Ansambel gamelan degung terdiri dari berbagai alat musik
yang memiliki fungsi dan karakter berbeda-beda. Kendang berperan sebagai
pengatur irama dan tempo permainan. Bonang, yang terdiri atas deretan pencon
kecil, berfungsi menghasilkan melodi hiasan. Saron memainkan melodi pokok, sementara
peking (panerus) menambah variasi dan keindahan melodi dengan nada yang lebih
tinggi. Jengglong dan gong menandai pola irama serta menjadi penegas pada akhir
bagian lagu. Selain itu, suling memberikan nuansa lembut melalui tiupan
bambunya, dan rebab sebagai alat gesek berdawai dua berperan memainkan melodi
utama yang ekspresif. Pada masa pemerintahan Dalem Haji sebagai Bupati Bandung,
ansambel gamelan degung awalnya hanya terdiri atas bonang, cecempres (saron),
jengglong, dan gong. Namun, berkat usulan para seniman karawitan seperti Abah
Iyam dan anak-anaknya—Abah Idi, Abah Oyo, dan Abah Atma—beberapa instrumen baru
seperti peking, kendang, dan suling ditambahkan. Usulan tersebut muncul dalam
acara Cultuurcongres Java Institut pada 18 Juni 1921, yang menampilkan
pertunjukan Goong Renteng dari Desa Lebakwangi, Kabupaten Bandung.
Seni degung berkembang menjadi dua bentuk utama, yaitu
Degung Klasik dan Degung Kreasi. Degung Klasik merupakan bentuk awal pertunjukan
gamelan instrumental berlaras degung yang ditandai oleh pola tabuhan bonang
dengan gaya gumelan. Jenis ini berkembang pada akhir abad ke-18 hingga awal
abad ke-19 dan menggunakan perangkat gamelan sederhana seperti koromong
(bonang), cemprès (saron panjang), degung (jengglong), dan goong. Setelah tahun
1921, Idi menambahkan instrumen kendang dan suling, dan pada tahun 1985, Grup
Parahyangan pimpinan E. Tjarmedi menambahkan unsur vokal (sekar). Sementara itu, Degung Kreasi merupakan hasil
inovasi yang memadukan unsur tradisional dengan elemen musik modern. Jenis ini
mengadopsi pola tabuhan dari gamelan kiliningan seperti kemprangan, susulan,
cacagan, dan carukan. Beberapa seniman menambahkan instrumen non-tradisional
seperti perkusi Latin, kacapi siter, dan suling enam lubang. Tokoh penting
dalam pengembangan Degung Kreasi adalah Nano S bersama Grup Gentra Madya, yang
menciptakan lagu-lagu populer seperti Kalangkang, Tibelat, Anjeun, dan Rumaos.
Jenis ini terbagi menjadi dua bentuk, yaitu Degung Kawih (dengan vokal) dan
Degung Instrumentalia. Beberapa album terkenal di antaranya Sabilulungan (Ujang
Suryana), Sangkala (Koestyara), Tilam Sono (Ida Widawati), dan Kalangkang
(Nining Meida).
Hingga kini, musik degung masih sering digunakan dalam berbagai acara adat dan budaya, seperti pernikahan dan pertunjukan seni. Beberapa sekolah di Jawa Barat juga mengajarkannya melalui kegiatan ekstrakurikuler, seperti di SDN 1 Kiarapedes, yang tampak aktif memperkenalkan degung kepada siswa melalui media sosial mereka. Kegiatan ini tidak hanya menumbuhkan kreativitas, disiplin, dan kerja sama, tetapi juga menjadi upaya penting dalam melestarikan warisan budaya daerah.
Keindahan musik degung tidak hanya terletak pada alunan nadanya, tetapi juga pada filosofi yang terkandung di dalamnya. Irama yang lembut dan mengalun pelan mengajarkan nilai ketenangan, kesabaran, dan keharmonisan hidup. Degung mencerminkan karakter masyarakat Sunda yang halus, sopan, dan mencintai kedamaian. Hadirnya berbagai grup degung di masa kini menjadi bukti bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian terhadap budaya tradisional. Alunan musik degung bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, ketenangan, dan keseimbangan hidup di tengah modernisasi yang serba cepat. Dengan demikian, musik degung tidak hanya berfungsi sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas yang memperkaya kebudayaan Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar