Minggu, 16 November 2025

Sejarah dan Perkembangan Degung Sunda di Era Modern


Kesenian daerah merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya yang mencerminkan identitas, nilai-nilai, dan pandangan hidup suatu masyarakat. Dari sekian banyak warisan budaya Nusantara, musik degung Sunda menjadi salah satu contoh harmonisasi antara tradisi dan modernitas yang masih lestari hingga kini. Degung merupakan ensambel gamelan khas Sunda yang dikenal dengan alunan musiknya yang lembut, menenangkan, dan sarat makna. Tidak hanya di tanah Sunda, instrumen gamelan juga ditemukan di berbagai daerah Indonesia seperti Bali, Banten, dan Jawa Tengah. Meskipun degung Sunda belum diakui secara khusus oleh UNESCO, namun gamelan, yang menjadi bagian penting dalam degung, telah diakui sebagai warisan budaya tak benda dunia pada tahun 2021.

Sejarah pembuatan degung telah mengalami perjalanan panjang dari masa ke masa. Pada masa kolonial, ketika logam masih banyak tersedia, degung dibuat dari bahan logam bekas seperti senjata api atau peralatan militer Belanda abad ke-19. Penggunaan logam sebagai bahan utama menciptakan bunyi khas sekaligus menjadi simbol transformasi dari alat perang menjadi alat harmoni. Proses pembuatannya dilakukan secara manual, mulai dari melebur logam di tungku kayu, mencetaknya dengan palu dan cetakan kayu, hingga membentuk nada melalui pukulan tangan. Etnomusikolog Belanda, Jaap Kunst (1934), mendokumentasikan proses ini dan mencatat bahwa degung sering kali dibuat dalam skala kecil untuk kebutuhan desa. Inovasi estetika pun mulai muncul dengan ditambahkannya ukiran bermotif Sunda pada badan instrumen. Memasuki era kemerdekaan (1945–1970-an), degung mulai diproduksi secara massal untuk keperluan pendidikan dan pertunjukan. Sanggar seni seperti Sanggar Degung Udjo (didirikan pada 1960-an) turut memperkenalkan standarisasi nada dengan menggunakan bahan kuningan murni. Pada dekade 1980-an, teknologi modern mulai diterapkan. Pengrajin degung memanfaatkan mesin CNC (Computer Numerical Control) untuk menghasilkan presisi nada yang lebih baik. Kolaborasi antara seniman dan akademisi, seperti yang dilakukan oleh ISBI Bandung, juga memperkenalkan inovasi seperti penggunaan logam daur ulang (degung hijau) dan eksperimen degung elektronik yang terintegrasi dengan aplikasi musik digital.

Menurut Kari Mulyana, kata degung berasal dari gabungan dua kata, “ngadek” (berdiri) dan “agung” (megah), yang mencerminkan kemegahan para bangsawan Sunda. Degung mulai populer pada abad ke-18 dan pada awalnya hanya dimainkan oleh kalangan menak (bangsawan atau bupati) sebagai hiburan di keraton dan pendopo. Seiring waktu, seni degung menyebar ke masyarakat umum dan kini dapat dinikmati oleh semua kalangan, baik dalam bentuk instrumental maupun vokal. Namun demikian, seniman Mamat Rachmat mencatat bahwa popularitas degung menurun dibandingkan masa keemasan pada tahun 1980–1986, ketika musik ini masih sering dipentaskan dan direkam secara luas.

Ansambel gamelan degung terdiri dari berbagai alat musik yang memiliki fungsi dan karakter berbeda-beda. Kendang berperan sebagai pengatur irama dan tempo permainan. Bonang, yang terdiri atas deretan pencon kecil, berfungsi menghasilkan melodi hiasan. Saron memainkan melodi pokok, sementara peking (panerus) menambah variasi dan keindahan melodi dengan nada yang lebih tinggi. Jengglong dan gong menandai pola irama serta menjadi penegas pada akhir bagian lagu. Selain itu, suling memberikan nuansa lembut melalui tiupan bambunya, dan rebab sebagai alat gesek berdawai dua berperan memainkan melodi utama yang ekspresif. Pada masa pemerintahan Dalem Haji sebagai Bupati Bandung, ansambel gamelan degung awalnya hanya terdiri atas bonang, cecempres (saron), jengglong, dan gong. Namun, berkat usulan para seniman karawitan seperti Abah Iyam dan anak-anaknya—Abah Idi, Abah Oyo, dan Abah Atma—beberapa instrumen baru seperti peking, kendang, dan suling ditambahkan. Usulan tersebut muncul dalam acara Cultuurcongres Java Institut pada 18 Juni 1921, yang menampilkan pertunjukan Goong Renteng dari Desa Lebakwangi, Kabupaten Bandung.

Seni degung berkembang menjadi dua bentuk utama, yaitu Degung Klasik dan Degung Kreasi. Degung Klasik merupakan bentuk awal pertunjukan gamelan instrumental berlaras degung yang ditandai oleh pola tabuhan bonang dengan gaya gumelan. Jenis ini berkembang pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19 dan menggunakan perangkat gamelan sederhana seperti koromong (bonang), cemprès (saron panjang), degung (jengglong), dan goong. Setelah tahun 1921, Idi menambahkan instrumen kendang dan suling, dan pada tahun 1985, Grup Parahyangan pimpinan E. Tjarmedi menambahkan unsur vokal (sekar).  Sementara itu, Degung Kreasi merupakan hasil inovasi yang memadukan unsur tradisional dengan elemen musik modern. Jenis ini mengadopsi pola tabuhan dari gamelan kiliningan seperti kemprangan, susulan, cacagan, dan carukan. Beberapa seniman menambahkan instrumen non-tradisional seperti perkusi Latin, kacapi siter, dan suling enam lubang. Tokoh penting dalam pengembangan Degung Kreasi adalah Nano S bersama Grup Gentra Madya, yang menciptakan lagu-lagu populer seperti Kalangkang, Tibelat, Anjeun, dan Rumaos. Jenis ini terbagi menjadi dua bentuk, yaitu Degung Kawih (dengan vokal) dan Degung Instrumentalia. Beberapa album terkenal di antaranya Sabilulungan (Ujang Suryana), Sangkala (Koestyara), Tilam Sono (Ida Widawati), dan Kalangkang (Nining Meida).

Hingga kini, musik degung masih sering digunakan dalam berbagai acara adat dan budaya, seperti pernikahan dan pertunjukan seni. Beberapa sekolah di Jawa Barat juga mengajarkannya melalui kegiatan ekstrakurikuler, seperti di SDN 1 Kiarapedes, yang tampak aktif memperkenalkan degung kepada siswa melalui media sosial mereka. Kegiatan ini tidak hanya menumbuhkan kreativitas, disiplin, dan kerja sama, tetapi juga menjadi upaya penting dalam melestarikan warisan budaya daerah.

Keindahan musik degung tidak hanya terletak pada alunan nadanya, tetapi juga pada filosofi yang terkandung di dalamnya. Irama yang lembut dan mengalun pelan mengajarkan nilai ketenangan, kesabaran, dan keharmonisan hidup. Degung mencerminkan karakter masyarakat Sunda yang halus, sopan, dan mencintai kedamaian. Hadirnya berbagai grup degung di masa kini menjadi bukti bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian terhadap budaya tradisional. Alunan musik degung bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, ketenangan, dan keseimbangan hidup di tengah modernisasi yang serba cepat. Dengan demikian, musik degung tidak hanya berfungsi sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas yang memperkaya kebudayaan Indonesia.